Rabu, 12 Juli 2017

The Lost Science of Money

Sudah lebih dari 4 bulan sejak saya pertama kali membuat blog ini. Hasilnya… saya tidak tahu pasti, tetapi saya menduga ada sekitar 1200 - 1500 orang di Indonesia yang pernah mengklik blog ini.

Dari 1200 - 1500 orang ini, saya menduga ada sekitar 150 – 200 orang yang berhasil saya ajak untuk meneliti lebih lanjut topik ini, sisanya adalah orang-orang yang secara kebetulan datang ke sini, dan juga orang-orang yang hanya datang sekali dan kemudian tidak berminat untuk mencari tahu lebih lanjut.

Ditambah dengan penjualan buku yang saya terbitkan tahun 2007 lalu (Masa Lalu Uang & Masa Depan Dunia), saya menduga hanya ada sekitar 1500 - 2000 orang yang berhasil saya jangkau.

Indonesia memiliki sekitar 230 juta penduduk, 2000 orang adalah 0,00087% darinya. Saya tidak tahu pasti ada berapa website yang membahas topik ini di Indonesia, terutama yang lebih khusus mengenai topik uang, tetapi saya menduga persentase penduduk negara ini yang pernah mendapatkan informasi sejenis masih sangat-sangat minim jumlahnya.

Saya cukup kagum dengan bisnis MLM, karena hampir semua MLM di Indonesia tampaknya bisa dengan “mudah” mencapai angka puluhan ribu member. Dan bila digabungkan semua MLM-MLM beken seperti Amway, CNI, atau Tianshi, dsb, anggota MLM di Indonesia bisa saja mencapai berjuta-juta orang. Artinya, beberapa persen dari penduduk Indonesia adalah member MLM, baik partisipan aktif maupun pasif.

Saya kadang-kadang penasaran, seandainya semangat multi-level ini bisa dipraktekkan untuk menyebarkan pesan-pesan seperti yang ada di website / blog semacam ini, mungkin kita-kita juga bisa menggerakkan massa untuk menuntut perubahan sistem moneter yang lebih adil, baik di Indonesia, maupun di dunia.

Kalau di MLM yang mayoritas partisipannya rugi saja anggotanya di Indonesia bisa menembus jutaan orang, bersediakah partisipan-partisipan yang sama ini menggunakan sebagian kecil waktu mereka untuk ikut menyebarkan informasi-informasi seperti yang ada di sini? Potensi kerugian bagi mereka adalah nol. Tidak perlu membeli produk, tidak perlu membeli tiket seminar, dan tidak perlu mentraktir siapa-siapa untuk duduk-duduk di kedai kopi sambil membagi peluang “bisnis.”

Saya tidak tahu Anda berpikir bagaimana, tetapi menurut saya, tanpa massa, semua percobaan kita akan berakhir sia-sia. Hanya membuang-buang waktu saja. Untuk itu, saya harapkan Anda semua untuk ikut berpartisipasi dalam percobaan ini.

Saya tidak meminta Anda untuk mempromosikan blog ini secara khusus, silahkan Anda mempromosikan website-website lain yang menurut Anda lebih baik, yang saya minta adalah Anda, dalam waktu senggang Anda, untuk mulai bercerita kepada teman-teman Anda mengenai topik ini (debt based money system & riba perbankan). Hanya perlu modal mulut, tak perlu mengeluarkan uang…

Maukah Anda melakukannya, Kawan?

Kalau Anda penasaran mengapa saya melakukan ini, saya akan menceritakannya kepada Anda…

Saya menulis topik ini karena saya tidak suka dikelilingi oleh orang miskin. 
Orang miskin memang tidaklah menakutkan, tetapi yang menakutkan adalah efek kemiskinan kepada mereka!


Saya dibesarkan di lingkungan kelas menengah seperti umumnya, walaupun saya kenal beberapa orang yang sangat kaya, tetapi saya mengenal jauh lebih banyak orang-orang yang tidak.

Sejauh yang bisa saya rasakan dari pengalaman hidup saya, permasalahan uang (terutama masalah kekurangan uang) bertanggungjawab secara langsung kepada berbagai masalah keluarga dan sosial. Rusaknya hubungan rumah tangga, korupsi, penipuan, perjudian, alkoholisme, prostitusi, ketergantungan kepada obat bius, tindakan vandalisme, dan naiknya kriminalitas, dsb.

Debt based money system dan sistem moneter ribawi yang digunakan di seluruh planet ini, telah, sedang, dan akan semakin mempermiskin mayoritas penduduk di setiap negara, dan Indonesia 100% tidak terkecuali dari fenomena yang sama.

Kecuali Anda tinggal di pelosok terpencil tanpa berinteraksi dengan orang-orang yang lain, bila tidak, kemiskinan publik cepat atau lambat akan berdampak secara lansung kepadamu ataupun keluargamu (efek fisik maupun mental). Tak seorangpun bisa tak terpengaruh oleh efek kemiskinan di masyarakatnya. Manusia yang hidupnya sedang terdesak oleh kemiskinan bisa melakukan apapun untuk mempertahankan hidupnya dan keluarganya.

Dan percayalah kepada saya, Anda tidak ingin melihat ketika mereka melakukan itu!

Saya masih ingat bertahun-tahun yang lalu, sebelum saya lulus dari perguruan tinggi, dalam KKN (Kuliah Kerja Nyata) di salah satu desa di dekat Boyolali, saya tinggal di rumah seorang petani… Di keluarga mereka, indomie sudah termasuk lauk elit! Mayoritas hidangan makan mereka hanyalah sepiring nasi putih ditambah sedikit sayuran.

Ada berapa banyak sebenarnya keluarga-keluarga seperti ini di Indonesia? Yang bahkan tidak bisa makan dengan layak 3 kali sehari?

Hari ini, di tempat saya bekerja (pabrik), saya juga melihat secara langsung operator-operator yang bekerja dengan upah budak UMK. Meraka juga punya keluarga... Bagaimana caranya gaji 1 juta harus dipakai untuk menghidupi keluarga mereka? Apa sebenarnya yang mereka makan setiap hari? Tempat tinggal semacam apa yang mereka huni? Sekolah apa yang bisa dimasuki oleh anak-anak mereka?

Sekadar membayangkannya saja sudah membuat saya merasa mual.

Kawan, apa sebenarnya yang bisa membuat Anda merasa marah? Kata-kata apa yang bisa membuat emosi Anda naik tinggi? Kalau Anda sekarang mulai tahu kemiskinan dalam porsi yang cukup besar disebabkan oleh sebuah penyebab yang sebenarnya bisa dihindari oleh manusia, mengapa Anda bisa diam saja?

…. Ok, saya lebih baik tidak mengomel lebih lanjut... Anda tidak ke sini untuk mendengar omelan saya bukan?

Hari ini, saya akan mempromosikan sebuah buku kepada Anda… Judulnya : The Lost Science of Money, karangan Stephen Zarlenga.

Seminggu yang lalu seorang teman saya memberikannya kepadaku. Saya belum selesai membacanya, tetapi so far saya sangat terkesan dengan isi buku ini. Ini adalah sebuah buku mengenai perjalanan uang, buku terbaik mengenai sejarah uang yang pernah saya baca.

Bankir sudah pasti tidak akan menyukai buku ini, dan saya khawatir para suporter emas dari Sekolah Austria pun mungkin tidak akan menyukainya.

Inti dari buku ini,

Semua uang pada dasarnya adalah Fiat. Medium X adalah uang karena penguasa atas komunitas tersebut memutuskan demikian. 
"Money Exists Not By Nature But By Law"

Pertengkaran mengenai medium uang, emas vs kertas, ataupun lainnya, adalah propaganda dari penguasa yang sama yang telah mengendalikan kedua-duanya. Isu yang sebenarnya adalah siapa yang menciptakan uang:
Pemerintah (mewakili publik) vs Bankir

Sinopsis buku ini bisa Anda lihat di websitenya: www.monetary.org 

Batu Akik .........., Ponzi Scheme atau Pump & Dump?

Entah datangnya dari mana, tiba-tibabatu akik menjadi populer akhir-akhir ini. Di kantor saya yang kecil ini, setahu saya, sudah muncul 5 penggemar-penggemar baru. Itu baru yang saya ketahui, mungkin ada yang lain yang saya jarang berkomunikasi. Di meja kerja mereka ada beberapa kotak yang isinya batu akik yang menjadi sebagian dari koleksi mereka. Ipar saya juga sekarang sudah pakaibatu akik dan koleksinya berkotak-kotak. Dan beberapa teman yang setahu saya tidak suka perhiasan, tiba-tiba fotonya di LinkedIn terlihat dengan cincin berbatu besar, seperti miliknya Tessy si pelawak yang sudah tidak laku. Tidak hanya itu, teman yang ruangan kerjanya di sebelah saya (penggemar akik) mengatakan bahwa ada 2 pulau di Maluku sudah ditutup karena takut kalau batu-batunya diangkut keluar. Nama batunya adalah bacan yang berwarna hijau.

Wah baunya tidak enak nih. Apakah ada demam baru? Takutnya ini adalah kasus yang sama dengan anthorium, ikan lohan, ternak cacing, ternak jangkrik,........ Bedanya adalah yang mempopulerkannya. 

Saya menemukan berita di internet. Ternyata selama ini memang ada pameran batu akik keliling yang diorganisir oleh Adhitama Cipta. Ini yang mempopulerkan dan membuat demam akik. Bukan Trubus.


Pameran Batu Akik Blok M Diserbu Pengunjung
Jumat, 31 Oktober 2014, 18:54 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Tren batu dan permata menarik perhatian pengunjung Mall Blok M Square, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Even Organizer Adhitama Cipta  yang mengadakan pameran batu kebanjiran pengunjung sejak Kamis (30/10) kemarin.

Pameran yang menghadirkan 65 pengusaha batu dari berbagai daerah menjual  batu dengan jenis seperti  bacan doko, sungai dareh, limau manis, giok aceh dan lainnya.  Batu-batu tersebut tidak hanya dibentuk seperti cincin dan kalung. Beberapa batu juga dibuat menjadi beberapa jenis hewan seperti kura-kura, ikan dan buaya.

Dalam pameran tersebut panitia pelaksana Panji mengatakan, pengunjung yang hadir membeludak sampai malam hari.  Bahkan setelah pameran tutup, pengunjung masih saja berdatangan untuk sekedar melihat, menawar dan membeli batu dalam bentuk bahan ataupun sudah dijadikan cincin, kalung atau bentuk lainnya.

Pengunjung yang terpantau oleh panitia pelaksana  datang dari berbagai macam porfesi, seperti pedagang, tukang ojek, dan pengusaha. Panji melanjutkan, harga batu dalam pameran Gemstone yang sudah diikat sangat beragam.

Untuk batu bacan doko yang sudah  jadi cincin bisa mencapai Rp 1,5 Juta sedangkan untuk bahan paling murah ada yang menjual dengan harga Rp 100.000 dari berbagai jenis batu.  Penjual batu akik dalam pameran gemstone Herman menjual bahan batu dengan Jenis sungai dareh air, sungai dareh tebing, giok aceh dengan harga Rp 100 ribu per pecahan batu. Tidak jarang juga ada permintaan langsung pengunjung untuk memoles batu pilihannya menjadi cincin.

Tahun lalu, Herman yang bekerja di Gemstone King ini pernah menjual batu jenis Giok Aceh dengan harga Rp 2,5 Miliar dengan ikatan cincin berlapis emas.“Yang beli orang asing,” kata Herman pada pameran batu gemstone di halaman depan Blok M Square.

Kebanyakan pengunjung mencari batu jenis bacan doko dari Kepulauan Kasiruta, Maluku Utara Seorang pengunjung, Arif Satria, mencari beberapa batu bahan untuk dibentuk sendiri.

Batu-batu yang dipopulerkan memang, menurut saya, baru; seperti giok Aceh, sungai dareh, limau dan bacan. Harganya juga baru; Rp 2,5 milyar (woooow!!!). Dan dongengnya banyak sekali, termasuk SBY memberi batu jenis ini kepada Obama dan ditutupnya beberapa pulau di Maluku. Menarik........ Dalam skala besar, dulu di Eropa dikenal kasus Tulip Mania tahun 1636 - 1637.

BANK IFI TERSUNGKUR, SIAPA LAGI MENYUSUL?

Beberapa bulan lalu Ekonomi Orang Waras dan Investasi (EOWI) menurunkan topik potensi kredit macet dan gangguan likuiditas perbankan di Indonesia (link: 1 dan 2). Sejak saat itu sudah ada dua bank bermasalah. Saya beberapa kali memberi peringatan di forum klubsaham.com bahwa ada bank berinitial “I” yang akan bankrut. Dan akhirnya (kemarin) bank IFI dilikuidasi. Dan ini beritanya:

Nasabah Terkejut Bank IFI Dilikuidasi
Jum'at, 17 April 2009 - 14:08 wib
Ahmad Nabhani - Okezone
JAKARTA - Ternyata kabar akan dilikuidasinya PT Bank IFI tidak diberitahukan ke pihak nasabah dan pihak karyawan. Bahkan, pihak nasabah terkejut dengan kabar tersebut karena selama ini tidak ada informasi tentang buruknya kinerja bank tersebut.

"Selama ini belum ada informasi tentang buruknya kinerja bank tersebut," ujar salah satu nasabah Bank IFI Agus, saat ditemui okezone, di Kantor Pusat Bank IFI Plaza ABDA, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (17/4/2009).

Kendati demikian sebagai nasabah yang cukup lama, dirinya menyerahkan sepenuhnya kepada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk menjamin dana miliknya aman. Selain itu, dia pun mengimbau nasabah lain untuk tidak perlu bersikap panik dan khawatir.

Namun berbeda dengan nasabah, sikap para karyawan terlihat cukup kecewa dengan berita dilikuidasinya bank. Karena pemberitaan tersebut baru didapatkan karyawan pada Jumat pagi ini. Yang lebih memprihatikan, belum ada penjelasan dari pihak manajemen tentang nasib gaji karyawan.

Ada poin penting dalam kasus ini. Pertama semuanya terjadi dengan tiba-tiba, sampai-sampai karyawannya pun tidak tahu akan adanya masalah di Bank IFI. Artinya, baik BI sebagai lembaga pengawas ataupun managemen bank dengan sempurna menutupi semua persoalan yang ada. Hal yang sama juga terjadi sebelumnya dengan Bank Century serta dibungkamnya Erick Ardiansyah, analis Bahana Sekuritas [link], ke dalam penjara karena memperingatkan klien nya akan adanya bank-bank yang bermasalah kepada kliennya.

Yang menarik adalah bahwa mayoritas uang nasabah, yaitu 54.4% tidak bisa ditanggung oleh LPS karena jumlahnya lebih dari Rp 2 milyar atau bunganya di atas bunga yang ditetapkan LPS yaitu 7.75% .

Rp191,2 Miliar Dana Nasabah Bank IFI tak Dijamin 
Jumat, 17 April 2009 12:22 WIB
MI/USMAN ISKANDAR
JAKARTA--MI: Direktur Klaim Dan Resolusi Bank Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Noor Cahyo mengatakan, berdasarkan posisi neraca per akhir Maret 2009, simpanan nasabah yang tidak di jamin atau di atas Rp2 miliar mencapai Rp191,2 miliar.

Noor Cahyo dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (17/4) mengatakan, jumlah tersebut dimiliki oleh 30 rekening. Bank IFI memiliki 9.600 rekening simpanan dan jumlah total rekening yang memiliki simpanan di bawah Rp2 miliar sebesar Rp160,4 miliar.

"Ini posisi Maret, ini bisa saja berubah, karena kita akan menghitungnya berdasarkan posisi saat dilikuidasi, hari ini Jumat(17/4)," katanya.

Menurut dia, simpanan yang dijamin adalah simpanan total setiap orang di satu bank maksimal Rp2 miliar, dengan suku bunga simpanan maksimal sesuai yang ditetapkan LPS, dimana saat ini 7,75%.

Walaupun tidak ada keterangan resmi, perkiraan saya jumlah dana nasabah yang menguap dan tidak ditanggung LPS sebesar Rp191.2 milyar itu hanya dana tabungan dan deposito saja. Sedangkan dana-dana lainnya seperti bank guarantee, garansi bank, atau bid-bond atau performance bond, certified check dan surat-surat berharga lainnya tidak termasuk disini. Teman saya terpaksa gigit jari karena bank garansi nya sebenar US$ 2 juta, tidak bisa dicairkan. Jadi mereka ini harus menunggu likuidasi aset-aset bank IFI.

Walaupun bagi yang termasuk Rp 160,4 milyar yang bisa memperoleh penalangan dari LPS, jangan harap bisa mencairkan uangnya dengan cepat. Tidak semudah itu.

Seperti biasanya BI sebagai badan pengawas perbankan tidak becus dan salah urus. Itu kata Ichsanuddin Noorsy. EOWI tidak mengerti apakah Noorsy ini masi waras?

Penutupan Bank IFI Akibat BI tidak Tegas 
Jumat, 17 April 2009 20:50 WIB
Penulis : Asep Toha
JAKARTA--MI: Masyarakat harus jeli mengenali banknya dengan melihat berbagai informasi termasuk laporan keuangannya. Pasalnya, fungsi pengawasan Bank Indonesia belum bisa menjamin dana masyarakat di bank akan aman seperti pada kasus PT Bank IFI.

Hal itu diungkapkan pengamat perbankan Ichsanudin Noorsy saat dihubungi Media Indonesia di Jakarta, Jumat (17/4). Menurutnya, BI masih belum bisa tegas dalam menangani pesoalan di bank. Begitu juga dengan perlakuan terhadap bank kecil. Bank Sentral lebih cenderung membiarkan bank-bank kecil ketika terjadi krisis.

"Bank Indonesia sekarang kurang tegas dalam menangani pesoalan. Coba baca laporan keuangan Bank IFI enam bulan lalu, laporannya masih unaudited. Padahal, isi laporan sebelumnya sudah memperlihatkan kinerja 'merah'. Jadi seharusnya, BI sudah melakukan berbagai langkah penanganan antisipatif sejak September ketika CAR-nya masih baik," tandas Noorsy.

Noorsy menambahkan, jika dilihat dari kinerjanya memang Bank IFI merupakan bank sakit. Penyakit ini disebabkan bank lebih memilih bermain di korporasi ketimbang di UMKM. Akibatnya, ketika banyak korporasi mengalami kesulitan, rasio kredit macet bank melonjak hingga 26,32% di November 2008. Artinya, penyakit bank bukan disebabkan kondisi ekonomi tapi lebih disebabkan tatakelola bank yang buruk. Lebih jauh, Noorsy mengatakan Bank IFI memang tidak bermain di produk derivatif atau sejenisnya. Akan tetapi, efisiensi bank sangat buruk mengingat hampir setiap bulan, bank ini mengalami rugi operasional yang terus meningkat. Rugi ini disebabkan, bank memberikan bunga tinggi pada dananya tapi kredit yang diberikan justru bunganya lebih rendah.

Kalau melihat tuduhan Noorsy, EOWI kurang paham, apakah Noorsy ini masih waras atau tidak. Pasalnya, BI tidak akan pernah mau membeberkan kebobrokan bank. Membeberkan kebobrokan bank akan sama artinya menyuruh masyarakat me-rush bank. Ini akan membuat sistem fractional reserve banking, akan runtuh. Hallooooo Ichsan..., apa kamu pikir BI mau mengungkapkan kebobrokan bank? Tidak lah..., itu bukan menjadi kepentingan BI.

Oleh sebab itu, EOWI sih berpikir dalam pola teori konspirasi. Ada kesengajaan untuk tidak mengungkapkan semua kebobrokan bank. BI punya dilema, pertama mengungkapkan situasi apa adanya dengan konsekwensi bank di-rush. Dengan sistem fractional reserve banking, sistem moneter sangat rentan terhadap pengambilan dana penabung dari bank. Ini pernah kita bahas di [link: 1 dan2]

Pilihan BI kedua menyembunyikan keadaan yang sebenarnya dan berharap, berdoa sampai bibirnya dower agar persoalan ini berlalu dan membiarkan nasabah terpapar resiko kehilangan uangnya. Dan nampaknya BI memilih yang ke dua. Bahkan kalau ada orang yang mau membeberkan keanehan-keanehan perbankan (bank-bank beresiko) akan ditangkap dan dikriminilisasi. Kami akan berusaha memberikan peringatan kepada pembaca, tetapi harus dimaklumi bahwa hal ini harus dilakukan dengan hati-hati. Untuk kasus bank IFI kami mengingatkan kira-kira 2 bulan lalu dengan hanya menyebut insial bank “I” saja. Tetapi sebaiknya pembaca lebih proaktif.

Ke depan kemungkinan kita akan melihat Bank Century, Bank IFI lainnya. BI memperingatkan bahwa kredit bermasalah naik. Kata Ichsanuddin Noorsy 26%. Tentang potensi kredit macet pernah kita bahas di MENGUKUR KEKUATAN BOM KRISMON INDONESIA 2009. Disitu dibahas seberapa besar kekuatan krisis itu dan seberapa besar peluangnya.

BI Ingatkan Risiko Kenaikan NPL
Herdaru Purnomo - detikFinance
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menghimbau perbankan nasional agar tetap memperhatikan modal dan menyiapkan pencadangan terkait rasio kredit bermasalah (NPL) yang meningkat.

Demikian dikatakan Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Halim Alamsyah kepada wartawan seusai melaksanakan shalat Jumat di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (17/4/2009).

"Kita sudah menghimbau kepada perbankan bahwa NPL yang meningkat harus membuat pencadangan. Pencadangan tersebut harus diambil dari resource-nya, dan itu baik untuk berjaga-jaga," ujar Halim.

Krisis saya pikir masih dalam proses. Hari ini saya membaca di koran Media Indonesia bahwa aset bank-bank BUMN turun sebesar Rp 24 trilliun. Ini bukan lah jumlah yang kecil. Minggu lalu saya diberi hadiah oleh bank saya sebuah printer HP yang secara khusus diantar ke kantor saya. Saya tidak tahu apakah karena minggu sebelumnya saya menelpon bank saya itu dan mengatakan bahwa saya mau menarik dana saya. Di samping itu pegawai bank itu menyodori saya pemberitahuan bahwa ada insentif untuk tetap menyimpan uang di bank antara April sampai Juli. Hadiahnya bagi uang simpanan Rp 20 milyar ke atas adalah sebuah mobil. Ada yang motor, tergantung jumlahnya. Tentu saja hal ini membuat saya berpikir. Ada apa?

Berita lain. Belum lama ini Bank CIMB, tempat saya memarkir uang hasil kerja di negri jiran, mengumumkan akan merumahkan (tanpa gaji) karyawannya di Malaysia dan di luar negri. Katanya, bank Niaga CIMB yang merupakan afiliasi CIMB, juga akan memberlakukan hal yang sama. Ada apa dengan bank CIMB (dan Niaga)?

Win-win move for CIMB, staff: NazirCIMB Group (1023), the country's second largest lender, says its no-pay leave offer to its 36,000 employees should not be construed as an intention to cut its staff strength.

Rather, it is the group's effort to reduce cost amid the global economic downturn, group chief executive Datuk Seri Nazir Razak said yesterday........

He was commenting on an exclusive report by Business Times that CIMB had issued a memorandum last Wednesday to all its employees to inform them of the no-pay leave option from April 1 of between one and six months.

The offer is open to all its employees in CIMB Bank as well as its units in Thailand, Indonesia and Singapore.


RENUNGANKalau melihat rally di bursa saham 4 minggu ini, kita akan berpikir bahwa krisis sudah berakhir. EOWI ingin memperingatkan lagi bahwa krisis belum berakhir. Fundamental ekonomi masih menyisakan beberapa bom waktu yang punya potensi meledak. Di US masih ada ARM (adjustable rate mortgage) dan Alt-A mortgage yang puncaknya ada di tahun 2010 dan 2011. Gelombang gagal bayar di sektor perumahan US punya peluang terjadi lagi di tahun-tahun itu.

Dampak krisis ekonomi global ke Indonesia adalah tidak langsung. Artinya gagal bayar ARM dan Alt-A tidak akan langsung mengenai perbankan Indonesia. Dampak ke Indonesia bersumber pada menurunnya tingkat konsumsi US dan dunia yang menjadi muara bagi eksport Indonesia. Jangan berharap bahwa pola konsumen US dan dunia akan berubah cepat. Selama beberapa bulan ini, kecenderungan menabung masyarakat US mulai meningkat (sebelumya nol atau sedikit negatif). Inilah yang bisa memukul sistem moneter Indonesia. Secara sedikit-demi-sedikit perusahaan-perusahaan yang berbasis eksport yang kehilangan pasar akan gulung tikar dan tidak mampu membayar kreditnya. Dan ini bisa berlangsung sampai 2012. Uang panas yang masuk ke Indonesia yang membuat rupiah menguat juga akan memperburuk keadaan. Daya saing perusahaan Indonesia menurun karenanya.

Jadi mau bagaimana? Apakah tabungan di bank harus di-emaskan? Saya pikir untuk bulan-bulan mendatang emas akan tertekan. Baik oleh ‘penguatan’ rupiah juga mengalirnya dana ke bursa saham. Investor akan cenderung membeli saham dalam kaitannya dengan persepsi bahwa tsunami dan gempa ekonomi global sudah selesai. Kami tidak tahu mengenai hal itu. Suatu gempa besar biasanya punya gempa susulan yang lebih kecil tetapi mempunya daya hancur yang lebih dahsyat. Karena, umumnya struktur sudah lemah ketika terkena gempa pertama dan orang sudah merasa bahwa bencana telah berlalu sehingga tidak waspada. Faktor inilah yang membuat korban berjatuhan lebih besar.

Kembali mengenai emas sebagai tempat berlindung bagi tabungan dan hasil jerih payah anda, kami pikir untuk beberapa bulan mendatang kurang bagus. Saya sendiri baru akan masuk secara serius ke sektor emas pada bulan-bulan Agustus-September. Itupun kalau alam telah memberikan tanda-tanda untuk masuk dalam lobang perlindungan kembali.

Jaga kesehatan dan tambungan anda baik-baik.......

Money Supply 101

Hari ini, kita lihat kembali mengenai sistem penciptaan uang di dunia, metode yang disebut dengan fractional reserve banking. Tentu saja, ini adalah debt based money system. No Debt, No Money. 1 & 2

Kebanyakan orang mempercayai 2 mitos mendasar tentang uang dan bank:
• Mereka berpikir pemerintah berbagai negaralah yang menciptakan uang, dan
• Bank komersial meminjamkan uang deposan ke debitur mereka.

Mengenai mengapa pemerintah yang katanya boleh mencetak uang bisa kekurangan uang, dan mengapa beberapa negara sampai gagal membayar hutang, mereka tidak berminat mencari tahu.

Dan mengapa uang setiap orang di rekening bank mereka tidak pernah berkurang, padahal katanya dari uang-uang merekalah bank meminjamkan uang ke debitur mereka, mereka pun langsung mengambil kesimpulan ini memang hal yang wajar. Titik.

Tapi tidak demikian dengan hal-hal lainnya tentang ekonomi atau politik. Mengenai hal lainnya, semua orang punya banyak komentar, masing-masing punya penjelasan betapa yang satu baik dan yang lainnya jahat. Ada yang memaki sistem, katanya ekonomi kapitalisme sangatlah jahat, ada juga yang berpikir model negara komunis & sosialisme sangatlah biadab. Ada yang menyindir budaya modern, katanya zaman sekarang manusia sudah kehilangan nilai-nilai sosialnya, dan makian-makian lainnya.

Apakah mereka benar atau salah? Entahlah... Saya pribadi tidak berminat berargumen untuk topik-topik itu. Ada hal yang menurut saya lebih mendasar, dan semuanya bermula dari uang…

Baik, sekarang kita mulai. Tapi sebelum membahas lebih lanjut, ada beberapa konsep mendasar yang perlu kita ketahui dulu:

• Di dalam sistem ada 2 macam uang, uang bank sentral dan uang bank komersial. Dua-duanya memiliki fungsi yang sama, sebagai alat tukar & pembayaran yang sah. Perbedaannya hanyalah penamaan mereka di dalam sistem dan hitungan statistik suplai uang.

• Neraca (balanced sheet) adalah bagan bagaimana seseorang atau sebuah perusahaan menilai harta mereka. Aset = Liabilitas (hutang) + Modal. Di neraca, total nilai di sisi kiri pasti sama dengan sisi kanan. Pasti seimbang, kalau sampai tidak balance ya bukan balance sheetlagi, hehe..
• Saat bank meminjamkan uang ke konsumen (menciptakan kredit), uang bertambah di sisi aset dan juga di sisi liabilitas. Saat konsumen mengembalikan uang itu, aset dan liabilitas berkurang dalam jumlah yang sama. Uang, yang muncul dari sulap sebatang pena, saat dikembalikan, akan hilang oleh sulap sebatang pena juga. Credit, that comes from thin air will back to thin air…

• Tabungan Anda adalah liabilitas (hutang) bagi bank, karena statusnya adalah Anda sedang meminjamkan uang Anda kepada bank. Pinjaman kredit seseorang adalah aset bagi bank, karena statusnya adalah seseorang itu sedang meminjam uang dengan bank.

• Cadangan minimum (reserve ratio) perbankan adalah porsi uang deposan yang wajib dicadangkan oleh perbankan. Kalau rasionya 10%, berarti untuk setiap 10 juta yang ditabung oleh seorang deposan, bank harus mencadangkan 1 juta dan hanya bisa menciptakan uang (kredit) sebesar 9 juta ke debitur mereka.

Ok, katakanlah hari ini kita memiliki sebuah negara baru, Negara Kesatuan Repulik Balon. Pemerintah ini memperhitungkan bahwa mereka memerlukan 100 milyar rupis untuk menjalankan operasi mereka, dan juga untuk memulai perputaran roda produksi barang dan jasa di negara tersebut. Pemerintahan ini, bukannya menerbitkan 100 milyar uang rupis untuk diedarkan, yang mereka lakukan adalah menerbitkan surat hutang sebesar 100 milyar rupis. Siapa yang beli? Awalnya adalah sebuah institusi yang mereka namakan Bank Sentral, sebuah organisasi independen, yang bebas dari intervensi pemerintah dan publik yang katanya mereka wakili.

* Di kemudian hari, campur tangan Bank Sentral untuk membeli surat hutang negara menjadi semakin lama semakin berkurang. Pemerintah akan menjalankan semua operasi mereka dengan menarik pajak dari penduduknya, dan juga menjual surat hutang mereka kepada sektor swasta.

Darimana Bank Sentral mendapatkan 100 milyar rupis? Jawabannya adalah dengan sebatang pena, sebuah mesin cetak, ataupun sebuah komputer. Kalau dipikir-pikir, memang tidak ada yang salah dengan itu. Kalau memang bisa dipermudah, mengapa dipersulit, bukan begitu? Mengapa harus membuka hutan, menggali tanah, mempertaruhkan nyawa untuk menambang logam menjadi uang? Ini abad 21.

Darimana Bank Sentral memperoleh kekuasaan seperti itu? Mengapa institusi ini bukan bagian dari pemerintah?

Jawaban dari para politisi & ekonom Republik Balon, ini adalah hak dan mandat yang harus diberikan kepada institusi ini, meniru sistem yang diterapkan oleh semua negara-negara beradab yang lain di planet ini. Penyebab lainnya, mereka tahu dari pengalaman politisi negeri lain, bahwa negara manapun yang mencoba keluar dari sistem ini, politisi di sana biasanya memiliki karier politik yang pendek. Negeri seperti itu biasanya akan berakhir dengan sejenis kudeta, revolusi, bahkan perang. Mengenai siapa otak (master mind) di balik berbagai kekacauan itu, nobody cares.

Teknisnya, Bank Sentral akan menukar surat hutang negara tadi dengan 100 milyar uang rupis yang mereka ciptakan, yang disetor ke rekening pemerintah di bank-bank umum (dealer) yang ditunjuk pemerintah. Negara mendapatkan uang, Bank Sentral mendapatkan surat hutang, dan bank yang digunakan pemerintah mendapatkan uang yang bisa dijadikan sebagai dana cadangan ke Bank Sentral untuk jaminan penciptaan uang berikut.

Uang ini, kemudian dibelanjakan pemerintah dalam berbagai pekerjaan publik mereka. Dengan berjalannya waktu, ribuan orang di Republik Balon pun mendapatkan bayaran.

Misalkan A, seorang kontraktor proyek pemerintah, pergi ke bank X dan menabung 100 juta rupis, dan menjadi satu dari puluhan ribu partisipan yang akan memberikan kontribusi multiplier uang di dalam sistem.

Katakanlah rasio pencadangan minimum (reserve requirement) yang disyaratkan oleh Bank Sentral Republik Balon ini adalah 10%. Maka dari uang yang disetor A, pembukuan perbankan akan berpotensimenjadi berikut ini:

Potensi adalah potensi, dan tidak berarti akan menjadi kenyataan. Dari contoh di atas, perhatikan bahwa hanya dari 100 juta rupis yang ditabung oleh A di bank X, ada potensi bahwa suplai uang bisa naik menjadi 1 milyar rupis. Multiplier uang adalah 10x lipat.

Semakin besar reserve requirement, semakin kecil multiplier suplai uang yang bisa terjadi. Sebaliknya, semakin kecil reserve requirement, semakin besar multiplier suplai uang yang bisa terjadi.
Dan ingat, yang mendapatkan uang dari belanja pemerintah tadi bukan hanya A. Ada A2, A3, A4, A5, dan ribuan orang lainnya. Semuanya akan memberikan kontribusi di dalam sistem debt based money ini. 100 milyar belanja pemerintah negeri Balon tadi bisa menjadi 1 trilyun kalau proses pinjam-meminjam oleh rakyatnya berlangsung maksimal.

Lalu, apakah setiap kali ada suntikan uang tunai di dalam sistem, lantas suplai uang nantinya pasti akan berlipat 10x seperti potensi di atas? Gunakan sedikit imajinasi Anda kawan… Perhatikan bahwa bank memang bisa meminjamkan uang, tetapi proses ini adalah tepukan 2 tangan, satu tangan saja tepukan tidak akan berbunyi. Di sisi debitur, harus ada orang yang datang meminjam. Harus ada orang yang punya kapasitas untuk meminjam (layak dipinjami karena bank menilainya sanggup membayarnya kembali). Tanpa orang-orang itu, roda kredit akan macet, suplai uang akan berhenti bertambah.

Di sisi lain, perhatikan juga sebesar apa kekuasaan bank komersial di dalam suplai uang Republik Balon ini. B,C,D,E,F, dll, uang yang mereka pinjam dari bank adalah harus melalui seleksi dan persetujuan dari bank X. Bank X, dan bank-bank komersial lainnya, merekalah yang menentukan ke mana uang mengalir, industri apa yang akan didukung, dan korporat mana yang akan mendapat dukungan paling besar. Kekuasaan ini tidak main-main, bagaimana bisa penduduk negeri Balon percaya para pemilik bank tidak akan mencuri kesempatan & mengambil manfaat dari sistem ini? Dengan powerseperti ini, siapa yang tidak mau mencoba menciptakan uang bagi korporat-korporat afiliasi mereka sendiri untuk mendominasi setiap sektor industri di negeri itu?

Kelompok mana yang lebih seharusnya dipercaya? Pemerintah, yang sejelek-jeleknya masih dipilih oleh rakyatnya… Atau bankir swasta, yang tidak dipilih oleh siapapun? Nyaris tidak ada orang di negeri Balon yang tahu kalau sebenarnya bankir-bankir di bank-bank yang mereka gunakanlah yang menciptakan mayoritas suplai uang mereka. Sama seperti di negeri-negeri yang lain, penduduk Republik Balon mempercayai 2 mitos uang seperti yang ditulis di awal.

Ok, sekarang kita lihat lagi hal sangat penting berikut:
B, yang meminjam ke bank untuk keperluan ekspansi tokonya, saat menerima pinjaman 90 juta dari Bank X, neraca bank akan tampak seperti ini:
Ini uang fresh from the oven, suplai uang di Republik Balon bertambah 90 juta saat kredit B dicairkan. Bank komersial X baru saja menggunakan pena sulapnya. Terus, katakanlah pinjaman ini disepakati sebagai pinjaman 2 tahun & bunga flat 10% per tahun. Pembayarannya adalah (90 + 18 juta) / 24 bulan = 4,5 juta per bulan.

Apa yang terjadi saat B melunasi pinjaman ini? Ya, money that came from thin air will back to thin air… 90 juta uang rupis menghilang dari neraca bank X, yang ada adalah +18 juta rupis yang statusnya sudah menjadi modal bank X (laba ditahan).

Darimana datangnya 18 juta ini? Jawabannya bukan dari 90 juta yang tadi (uang itu sudah menghilang di tengah udara), tetapi dari hutang seseorang lainnya di dalam sistem. B harus menjual barang atau jasa tertentu selama 2 tahun ini dan menemukan 18 juta rupis tambahan untuk membayar bank X.

Ini adalah neraca bank X saat B melunasi hutangnya (transaksi dengan B):
Hal yang sama terjadi pada C, D, E, F, dst. Setiap orang memainkan peranannya di dalam sistem fractional reserved banking. Mungkin sejumlah orang benar-benar hidup tanpa hutang, mungkin perusahaan-perusahaan tertentu memang dijalankan tanpa hutang, tetapi asal-usul uang bukan hutang mereka adalah hutang dari seseorang / perusahaan yang lain di dalam sistem.

Apa yang dilakukan Bank X dengan 18 juta itu? Ya, itu tergantung keputusan internal pemegang sahamnya. Sebagian tentunya dipakai untuk biaya operasional seperti membayar gaji pegawai, membangun gedung, dll. Sebagian lagi mungkin dibagikan sebagai bonus staff ataupun dividen pemegang saham, dan sebagian lagi bisa ditahan sebagai modal untuk memperbesar kapasitas meminjam mereka*. Yang pasti, bank adalah institusi profit oriented, yang bekerja dengan prioritas utama memperjuangkan kepentingan institusi mereka, bukan yayasan sosial atau organisasi pembela publik.

Bagaimana kalau B gagal membayar? Ya, bank X akan menderita kerugian di pembukuan mereka, modal mereka akan berkurang sebesar porsi hutang yang gagal bayar itu. Tetapi, bank X boleh menyita aset jaminan dari B! Bank komersial, yang tidak memproduksi apapun di masyarakat, akan menjadi pemilik dari tanah, bangunan, mesin, pabrik, dan aset-aset lainnya dari orang-orang yang gagal membayar di dalam masyarakat.

* Selain reserve requirement, ada rasio lainnya yang bisa digunakan Bank Sentral untuk mengontrol level fractional reserve banking dari bank komersial, namanyaCapital Adequacy Ratio (Rasio Kecukupan Modal). Apa maksudnya? Itu adalah rasio minimal Modal dibagi Aset di dalam neraca. Kurang dari angka tertentu, maka sebuah bank akan termasuk kategori under-capitalized. Mereka harus mencari modal tambahan sebelum bisa menciptakan kredit lagi di dalam sistem.
Di dalam capital accord I, rasio dibagi secara sederhana, nilai nominal modal dibagi dengan nilai nominal aset di neraca. Sekarang, perbankan mulai menerapkan capital accord II (Basel II), perbedaannya adalah cara menghitung aset agak berubah. Aset yang dinilai “aman” bisa memiliki daya fractional reserveyang lebih tinggi. Ini dinamakan risk-based fractional reserve banking. Untuk ilustrasinya, silahkan lihat contohnya di sini.

Semakin tinggi CAR yang ditentukan, semakin berkurang kapasitas bank dalam menciptakan kredit. Semakin rendah CAR yang ditentukan, semakin meningkat kapasitas bank dalam menciptakan kredit.


Sampai di sini, saya rasa Anda mulai paham mengenai konsep-konsep dasar sistem ini. Ini adalah tinjauan matematis. Fakta, bukan konspirasi.

Di dalam system debt based money system, kita memiliki 2 masalah mendasar. Yang pertama adalah bunga bank. Bank hanya menciptakan hutang pokok, tetapi tidak menciptakan bunganya, jadi sampai kapan pun tidak akan ada cukup uang di dalam sistem untuk melunasi semua hutang yang ada. Yang kedua adalah uang muncul dalam bentuk hutang. Karena setiap kontrak hutang ada durasinya, maka uang tidak eksis secara permanen di sebuah masyarakat.

Dua hal ini akan menyebabkan semua uang cepat atau lambat dihisap menjadi modal (laba ditahan) oleh perbankan. Pemilik sistem ini akan memiliki semua uang yang eksis di masyarakat manapun. Semua orang secara langsung ataupun tidak adalah penyewa uang mereka.Rokiburger in real action my friend…

Penduduk Republik Balon, mereka bukan saja harus terusmengajukan hutang baru untuk membayar bunga bank, mereka juga harus terus mengajukan hutang baru hanya untuk mempertahankan suplai uang lama mereka, yang perlahan menghilang dari sistem setiap kali ada orang yang melakukan pembayaran cicilan hutang.

Sekaligus penduduk ini sudah tidak memerlukan rumah baru, mobil baru, pabrik baru, dan mainan-mainan baru lainnya, mereka mau gak mau harus terus mengekspansi produksi mereka, terus menciptakan keinginan konsumsi yang lain, atau terus membuka lahan dan hutan baru. Keluarga yang awalnya hanya perlu 1 orang bekerja mencari nafkah harus bertambah menjadi 2 orang, dan mungkin sebentar lagi menjadi 3 atau 4 orang. Mengapa? Karena bila tidak dilakukan, kolam suplai uang akan mengering.

Waktu yang paling menyenangkan di dalam sistem ini adalah saat masyarakat Republik Balon baru memulai proses pembangunan mereka, saat ekonominya tengah booming, di mana mayoritas orang memang giat bekerja dan memproduksi untuk memenuhi kebutuhan warga lainnya. Penduduk tidak ragu untuk berhutang, karena memang yakin selalu ada cara untuk membayarnya. Keinginan-keinginan yang belum terpenuhi terus bermunculan, dan inovasi-inovasi produk untuk memenuhi keinginan mereka pun terus berkembang. Banyak sekali orang yang mengajukan kredit, dan bank-bank komersial pun dengan senang hati memberikannya. Everybody win. Happy time is here

Kalau Anda lihat grafik suplai uang mereka, dalam jangka panjang, biasanya akan menukik tajam ke atas membentuk grafik parabolik. Mengapa parabolik? Karena faktor bunga-berbunga di dalam sistem(compounding interest). Masyarakat akan dibentuk untuk terus berekspansi dan mengejar bunga. Ekspansi dan ekspansi, jatuh bangun untuk mengejar puncak potensial mereka. Dan ketika potensial maksimal sudah tercapai, grafik paraboliknya akan berhenti dan kemudian berbalik arah.
Balon USD, yang diekpsor ke seluruh dunia
Balon internal Indonesia
Sebaliknya, waktu yang paling berbahaya di dalam sistem ini adalah kalau penduduk Republik Balon ini benar-benar sudah “kelelahan,”kalau mereka (secara komulatif) benar-benar sudah tidak sanggup lagi berhutang, membayar dan mempertahankan suplai uang di negeri mereka. Melewati level itu, yang ada di depan mereka adalah deflasi dan pemiskinan massal. Dalam kondisi yang lebih buruk, mereka akan menghadapi proses likuidasi liabilitas (penyingkiran debt slave yang tidak berguna).

Sebelum tiba waktu itu, ketika tanda-tanda “kelelahan” baru mulai terjadi, penduduk Republik Balon (termasuk industri perbankan!) biasanya akan ramai-ramai meminta tolong kepada pemerintah, sebuah institusi yang sebelumnya mereka katakan tidak boleh dipercaya untuk mengatur uang! Karena itu, kadang-kadang pemerintah mengatakan mereka akan melancarkan proyek stimulus. Mereka akan memperbanyak proyek pembangunan. Di kesempatan lain, mereka mengatakan mereka akan mengurangi pajak. Sungguh menyenangkan…

Masalahnya, pemerintah tidak punya sumur uang, dan menurut aturan perbankan negeri-negeri beradab di planet ini, pemerintah tidak punya hak untuk mencetak uang. Yang bisa mereka cetak adalah surat hutang negara. Oops…

Hal lainnya dari pemerintah adalah tampaknya jumlah pegawai dan gaji mereka hanya memiliki satu arah, yaitu naik. Kalau benar pajak dikurangi, dan proyek pembangunan dinaikkan, darimana uang untuk itu akan datang? Jawabannya adalah penerbitan surat hutang baru. Tetapi, karena yang namanya surat hutang perlu dibayar (+bunga), maka mau gak mau pajak juga nantinya akan dinaikkan. Pajak yg dikurangi demi janji stimulus hanyalah sementara, nantinya akan naik bahkan lebih banyak lagi, karena semua biaya operasional pemerintah dan hutangnya tetap harus dibayar… Dan menurut sistem keuangan planet “beradab,” semua penerimaan pemerintah (selain dividen BUMN) ujung-ujungnya memang harus adalah pajak.

Sekali-kali memang akan ada orang yang bertanya, mengapa pemerintah tidak menerbitkan uang sendiri saja? Mengapa selalu harus tergantung kepada orang lain untuk mendapatkan uang mereka? Apakah tidak boleh proyek pembangunan infrastruktur dan modal kerja industri produktif pemerintah dibiayai dengan printing money? Jawaban dari main stream adalah tidak, itulah konsep perbankan negeri beradab. Penciptaan uang terlalu penting untuk dipercayakan kepada pemerintah, hanya institusi perbankan swasta yang bisa dipercaya.

Para guru besar dan ekonom korban propaganda pikiran pun gak kalah sindirannya, “Siapapun yang tidak setuju silahkan lihat Zimbabwe atau Weimar!,” Tak ada argumen yang lain, setiap kali gagasan printing money diutarakan warga negeri Balon yang bingung atas konsep “beradab” ini, jawaban para simpatisan pro status quo itu tidak akan jauh-jauh dari argumen di atas.

Dan akhirnya akan tiba suatu saat, di mana pemerintah negeri Balon pun tidak sanggup memberikan lagi stimulus. Saatnya mereka sendirilah yang sekarang perlu diinfus dengan vitamin S (stimulus). Hehe.. Jangan Anda kira tidak ada limit berapa surat hutang yang bisa dicetak oleh negara. Ada, limitnya ada di kondisi fiskal mereka, berapa yang mereka dapat dari pajak, dan berapa yang harus mereka bayar dalam anggaran tahunan mereka. Bukan karena mereka melancarkan proyek stimulus, lantas penerimaan mereka dari pajak di bulan-bulan mendatang pasti akan naik sebanding stimulus itu. Belum tentu. Kalau publik sudah kelebihan beban hutang dan pengeluaran, mereka akan sampai ke titik di mana mereka akan menolak distimulir, bagaimanapun mereka dipancing.

Saat sebuah pemerintahan sampai di titik itu, saat neraca buruk pembayaran mereka sudah mustahil untuk ditutupi, mata uang mereka akan dihajar oleh spekulan-spekulan yang gemar mencari uang di arena perdagangan mata uang.

Di masa itu, saat penerimaan benar-benar tidak sanggup lagi menutupi pengeluaran, pemerintah Republik Balon akan dihadapkan ke 2 pilihan:

1. Percayai ekonom yang mempromosikan stimulus pemerintah tanpa henti. Just print more bond. Never give up. Cetak terus hutang baru, kalau perlu biarkan Bank Sentral yang membeli surat-surat hutang itu. Cepat atau lambat, market pasti akan rebound. Apalah artinya membayar beberapa persen bunga pinjaman? Itu gak masalah.

2. Percayai ekonom yang mempromosikan anggaran berimbang. Menyerahlah, lepaskan stimulus, mari hidup hemat (hidup miskin)! Biarkan proses deflasi berlangsung, jangan ikut campur di dalam sistem.

Atau saatnya mendengarkan solusi versi orang-orang yang “kurang beradab”? Dengarkan mereka, negeri Balon bisa memodifikasi jalan pertama. Solusi deflasi adalah inflasi. Solusi kekurangan uang adalah menambah uang. Tetapi solusi kelebihan hutang pastinya bukan menambah hutang!

Uang tetap akan dicetak, tetapi statusnya adalah uang bebas hutang. Bagaimana pemerintahan negeri Balon bisa mengatakan mereka adalah negara berdaulat (sovereign) kalau mereka bahkan tidak punya hak untuk mencetak uang negeri Balon sendiri (sovereign currency)? Apakah kosakata berdaulat (sovereign) bukan sebuah sindiran orang-orang “beradab” kepada pemerintahan idiot Republik Balon?

Tidak ada bunga apapun yang perlu dibayarkan atas uang cetakan ini. Semua industri-industri BUMN yang produksinya tidak berjalan lancar karena kekurangan modal akan mendapat suntikan dana hasilprinting money ini. Semua potensi produksi bisa dimaksimalkan untuk meningkatkan output barang dan penyerapan tenaga kerja di level setinggi yang mereka bisa. Pendidikan dan pengobatan mendasar pun bisa menjadi hak setiap penduduk negeri Balon.

Apakah gagasan ini akan menyebabkan hiperinflasi (harga barang)? Gunakan lagi imajinasi Anda kawan… Harga adalah efek kombinasi dari suplai uang, suplai barang, kebutuhan, dan (kadang-kadang) manipulasi kartel. Jangan hanya memperhatikan satu sisi.

Saat para peniup balon (hutang) mencapai / melewati puncak kapasitas mereka untuk berhutang, suplai uang akan menurun dan terus menurun. Dan kalau pemerintah juga mengalami hal yang sama, tidak ada hal apapun lagi yang bisa menolong negara mereka. Proses deflasi hanya bisa dilawan dengan inflasi. Hilangnya uang di dalam sistem (uang yang back to thin air tadi) harus dilawan dengan injeksi suplai uang baru.

Quantitative Easing (QE) adalah solusi versi ini (Bank Sentral membeli surat hutang negara ataupun korporat). Tapi ada kesalahan yang serius, yaitu status uang yang dicetak itu. Dalam QE, status uang baru itu masih adalah hutang, dan akan terus membebani anggaran negara-negara yang memang sudah bobrok itu. Tetapi percobaan ini juga bagus bagi para orang-orang yang terus menyindir mengenai Zimbabwe dan Weimar. Sudah 1,5 tahun sejak QE dilakukan di sana, ternyata dolar dan poundsterling belum perlu diangkut dengan gerobak...

$1 trilyun lebih injeksi uang baru dari Bank Sentral Amerika (Federal Reserve) tidak berhasil mempertahankan total suplai uang mereka. Uang (kredit) yang menguap di tengah udara, yang sudah menghilang di dalam sistem masih lebih besar dibandingkan suntikan uang dalam QE.
Mau mencoba QE tahap 2?
Ditinjau dari segi suplai uang saja, saat ini USA is no where near hyperinflation. Yang harus dikhawatirkan justru adalah hiperdeflasi. Namun, dalam konteks harga barang, belum tentu, karena seiring dengan waktu, kita belum tahu apakah persentase output produksi barang di Amerika akan jeblok lebih cepat atau lebih lambat dibanding suplai uang mereka.

Kalau Anda lihat fakta bahwa angka pengangguran di Amerika yang terus memburuk, maka cukup besar kemungkinannya bahwa sejumlah besar uang-uang QE kemarin tidak masuk ke kantong perusahaan-perusahaan yang menciptakan lapangan kerja, melainkan masuk ke kantong perusahaan-perusahaan finansial sebagai modal untuk spekulasi kembali di pasar finansial.

Faktor lain adalah kita juga tidak tahu kapan dolar-system akan ditinggalkan. Mengandalkan populasi yang sudah melewati peak credit adalah gagasan yang buruk bagi seluruh negara lain di dunia untuk mendapatkan suplai uang transaksi internasional mereka. Saatdolar-system ditinggalkan, dikombinasikan dengan proses deflasi suplai uang mereka, Anda bisa yakin kehidupan yang amat gelap akan menghampiri penduduk Amerika.

Ok, kita kembali lagi ke Republik Balon… Jadi apa yang sebaiknya dilakukan di sana? Bagaimana agar mereka tidak akan berakhir sama dengan para peniup balon di negeri-negeri beradab yang lain? Ya, agak lucu juga, langkah awal adalah mereka harus menjadikan 2 mitos uang mereka menjadi fakta.
1. Pemerintahlah yang mencetak uang.
2. Bank meminjamkan uang deposan ke debitur mereka (bukan menciptakan uang dalam bentuk kredit).

Caranya bagaimana? Apakah perlu revolusi? Jawabannya moga-moga adalah tidak. Yang diperlukan sebenarnya adalah pemahaman publik, aksi, dan perubahan aturan akuntansi.

Di artikel sebelumnya, saya menyinggung tentang social credit. Di artikel kali ini, saya ambilkan contoh gagasan reformasi moneter yang lain. Ini adalah konsep perubahan yang tengah diperjuangkan oleh AMI (American Monetary Institute). Untuk lebih detailnya, silahkan mengunjungi & membaca lebih banyak di website mereka atau coba download pamflet singkat ini terlebih dahulu.

Buku mereka, The Lost Science of Money, bisa Anda download di internet, cari saja di google (file torrent). Anda cukup mengganti kosakata Federal Reserve dengan Bank Sentral negara lain. Karena sistem semua negara kurang lebih sama, maka rencana reformasi dia bisa diterapkan di negara manapun juga.

Walaupun saya tidak 100% setuju dengan semua yang mereka rekomendasikan, tetapi setidaknya rencana reformasi mereka menunjukkan bahwa ada alternatif lain selain sistem sekarang. Berikut adalah 3 poin penting rencana mereka:

1. Posisikan Bank Sentral sebagai bagian dari pemerintah. Monetisasikan semua uang (kredit) di dalam sistem. Saat ini, saat hutang dikembalikan oleh debitur ke bank komersial, uang (kredit) itu akan menguap, hilang. Tetapi, bila semua kredit dimonetisasi, maka saat uang dikembalikan oleh debitur, uang itu masih akan ada di dalam sistem. Uang ini akan ditransfer ke sebuah rekening khusus pemerintah, karena status kredit yang disalurkan sebelumnya sudah menjadi hutang bank kepada pemerintah.

2. Hentikan hak bank komersial untuk menciptakan kredit. Tidak ada lagi fractional reserve banking. Mulai sekarang, bank hanya boleh meminjamkan uang deposan yang mereka himpun, ataupun modal mereka sendiri.

3. Bila memang diperlukan, setiap beberapa waktu, pemerintah boleh menginjeksi sejumlah uang tertentu di dalam sistem, misalnya untuk membiayai proyek infrastruktur, pertanian, pertambangan, pendidikan, ataupun kesehatan dasar. Akan ada tim di pemerintahan yang menghitung berapa uang baru yang diperlukan oleh negeri Balon itu.

Tentu, reformasi seperti ini tidak akan gampang. Detail pelaksanaannya juga masih harus dipelajari dengan panjang.

Pertanyaan yang lebih penting sekarang adalah: pemerintahan negara mana yang mau menjadi pelopor untuk mencari “gara-gara” denganMoney Master? Siapa mau mencoba?

Saya jadi teringat sebuah foto lama, foto yang hebat dan penuh makna. Foto seorang mantan presiden, yang katanya adalah diktator gagah perkasa, yang katanya adalah raja selama 32 tahun di Indonesia, yang katanya kekuasaannya ibarat pohon beringin, kokoh tak tergoyahkan, ternyata hanya bisa duduk patuh mengikuti instruksi saat menghadapi seorang agen Money Power, upline-nya di piramida kekuasaan dunia.

Sign it you goyim!
enyataannya, ke negara manapun Anda pergi, kalau Anda mau membuka mata, situasinya sebenarnya sama. Politisi di debt based money system pada dasarnya hanyalah pion-pion di papan catur. Semuanya berharga, tetapi bila mereka sudah tidak lagi memberikan manfaat, atau bila publik memang menuntut cukup keras, mereka tetap boleh dikorbankan. Selalu akan ada pion-pion bodoh-namun-berguna (usefull idiot) yang berikut, persis seperti yang direncanakan dalamprotokol "bijak" zion.

There’s a sucker born every minute

"Welcome Sir.. Want something here? Maybe I can help"
Ok, hari ini sampai di sini. Saya tidak tahu apakah harus menganjurkan Anda untuk menyebarkan artikel ini ke teman-teman Anda atau tidak...

Kadang-kadang, saya memang agak kecewa mengapa kejadian-kejadian yang tidak penting bisa diliput dan diperbincangkan begitu banyak orang. Puluhan ribu, bahkan jutaan orang bisa bergabung difacebook membahas skandal-skandal terbaru para selebritis & politisi populer. Tetapi, di sisi lain, saya juga agak bersyukur blog ini tidak pernah ramai. Karena kalau sampai ramai, entah saya akan berurusan dengan polisi atau tidak nantinya. Hehe…

Anyway, karena mainstream media tidak akan membahas topik ini di acara tv mereka, terpaksa kita yang melakukannya sendiri. Publik benar-benar harus tahu lebih banyak tentang asal-usul uang mereka dan konsekuensi dari sistem yang ada. Biarkan mereka paham dan kemudian menentukan, apakah mereka ingin bertahan dengan sistem yang ada atau mereka mengharapkan perubahan yang lain, bukan begitu?


End note:
Saya mendukung hak pemerintah untuk mencetak uang dalam proyek pembangunan fisik dan usaha-usaha produktif, hanya itu. Bukan berarti saya mendukung semua perbuatan pemerintah di bidang yang lain. Saya, sama seperti kebanyakan orang, juga percaya institusi itu sangat tidak efisien dalam bekerja. Skala institusi itu mungkin bisa diperkecil, jumlah pegawai negeri juga demikian. Anggaran tahunan mereka (& pajak yang perlu ditarik) seharusnya masih bisa dikurangi. Biarkan lebih banyak uang publik tetap berada di tangan mereka, dan publiklah yang menentukan apa yang ingin mereka lakukan dengan uang mereka, bukannya terus-menerus dipaksa membayar semakin banyak pajak setiap tahunnya.